Kapankah Waktu Yang Tepat Untuk Mengajari Anak Matematika

March 27, 2020

Mungkin sebagian dari Anda menjawab “Sedini mungkin lebih baik!” dan sebagian lagi menjawab “Ah, nanti saja saat usianya menginjak 7 atau 8 tahun… Biarkan ia puas bermain dulu.” Sadarkah Anda, ternyata anak Anda sudah belajar matematika bahkan sejak ia dilahirkan!

Saat Anda menyusui, mengganti popok, atau menggendongnya, saat itu Anda sedang memperkenalkannya dengan kasih sayang. Sewaktu Anda mulai menerapkan jadwal tidur, jadwal makan, atau bahkan sewaktu Anda mengajaknya bermain, cilukba misalnya, saat itulah Anda sedang mengajarinya matematika.

Seorang matematikawan berkebangsaan Amerika bernama Keith Devlin pernah berkata bahwa matematika adalah ilmu tentang pola. Beberapa minggu sejak anak dilahirkan mereka sudah mampu mengenali pola. Pola dapat diartikan sesuatu yang repetitif. Jadwal merupakan hal yang repetitif. Begitupun dengan permainan cilukba. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bayi sangat menyukai bermain cilukba? Karena ia melihat pola: Anda menutup wajah, membukanya, lalu tersibak wajah penuh keceriaan, begitu seterusnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa mengenal pola adalah pelajaran matematika pertama yang dipelajari anak Anda.

Dari hari ke hari, pengetahuannya kian bertambah. Dari yang hanya menjadi pengamat, ia pun mulai mengambil peran. Ya, saat itu anak menciptakan kegiatan repetitifnya sendiri, seperti membentur-benturkan 2 buah benda yang berada di genggamannya. Saat usianya 1 tahun, ia mulai mengenal ruang. Hal tersebut terlihat sewaktu ia dengan antusias mencoba memasukkan mainannya ke dalam boks lalu mengeluarkannya kembali. Di usia balita, ia akan lebih mengekplorasi lingkungan di sekitarnya. Mana yang lebih banyak? Mana yang lebih besar? Mana yang lebih panjang? Anak mulai mengetahui banyak benda dan membandingkan ukuran benda. Ia akan memilih balon yang lebih besar atau pita yang lebih panjang!

Namun, entah mengapa saat mereka masuk sekolah, ketika seluruh kegiatan tersebut dilabeli dengan kata “matematika”, semua kesenangan, kegembiraan, dan rasa ingin tahu itu sirna. Matematika seolah-olah menjadi suatu hal yang sulit dan membosankan dan akhirnya, belajar matematika dianggap menjadi beban.

Sesungguhnya matematika itu begitu dekat dengan kita karena matematika sendiri lahir sebagai alat manusia untuk memecahkan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, bukanlah waktu atau usia yang menjadi acuan seseorang untuk mulai belajar matematika, namun bagaimana cara kita mengajarkannya.